hai apa kabar negeri mu yang kaya raya itu..
negeri kolam susu, kayu dan tanah menghidupi mu
hai apa kabar negeri tetesan sorgamu itu...
nenek moyangnya pelaut yang unggul
Masihkah subur dan makmur tanahmu?
masihkah si buyung bisa bermain bola sambil merangkai cita
masihkah cinta menghiasi hati orang-orangnya
masihkah perbedaan menjadi berkah
Hai apa kabar negeri mu yang ramah tamah itu...
masihkah berbeda ritual kita saling menjaga
masihkah berbeda warna kulit menjadi pemersatu
masihkah kita saling bahu membahu membangun anak negeri
Hai apa kabar negeri mu yang hebat itu
masikah mimpi mendapat ruang di hati kita
masihkah mata sipit, kullit hitam, rambut keriting adalah saudara kita
masihkah kau peduli dengan sesama walau berbeda suku
Hai apa kabar negeri mu yang santun itu...
masihkah kejujuran bahasa kita bersama
masihkah keadilan bersetubuh dalam prilaku kita
masihkah tanah, air dan isinya untuk kaum dhuafa
hai negeri yang gemah ripah loh jinawi
disini sikecil merengek minta tempe
disini para pemimpin selalu berganti warna
disini yang miskin tidak lagi menjadi makhluk kesayangan ALLAH
disini darah anak negeri tidak lagi menyuburkan ibu pertiwi
Disini darah ditumpahkan manusia biadab karena mimpi bodoh "jihad"
Hai negeri yang kucinta
DISINI hanya satu yang tidak berubah
PARA PEMIMPINNYA SIBUK berkoalisi untuk KEHANCURAN...
jakarta, 22 Juli 20009
Selasa, 21 Juli 2009
Selasa, 09 Juni 2009
Kalama Sutta
Kalama sutta adalah sebuah dasar penyelidikan bebas atau sebuah panduan untuk mencari kebenaran secara bijaksana. Panduan ini berawal dari pengalaman Budha yang pernah datang ke desa yang dihuni oleh orang-orang Kalama. Suku Kalama terdiri dari orang-orang yang cerdas dan pintar di India.Suku Kalama berdiskusi tentang Bagaimana untuk mengetahui kebenaran sebuah ajaran yang dibawa oleh seseorang. Sementara orang lain, atau guru-guru spritual (agama) yang lain juga mengajarkan kebenaran dan kebaikan. Perdebatan ini menjadi topik hangat, dalam diskusi ini dirumuskan sebuah cara untuk mengetahui sebuah kebenaran, yang lebih di kenal dengan Kalama Sutta (dasar penyelidikan bebas). Yaitu:
1. Janganlah percaya begitu saja pada apa yang kita dengar hanya karena kita telah mendengar itu sejak lama
2. Janganlah mengikuti tradisi secara membuta hanya karena hal itu telah dipraktikkan secara turun temurun.
3. Janganlah cepat terpancing desas desus
4. Janganlah menyakini segala sesuatu hanya karena hal itu sesuai dengan ktab suci kita, karena pemahaman kita yang "kurang cerdas" dari maksud dan makna yang di tulis di kitab suci.
5. Janganlah membuat asumsi-asumsi secara bodoh
6. Janganlah tergesa-gesa menarik kesimpulan berdasarkan apa yang kita lihat dan dengar
7. Janganlah terkecoh oleh penampakan-penampakan luar
8. Janganlah berpegang kuat pada pandangan atau gagasan apapun hanya karena kita menyukainya
9. Janganlah menerima segala sesuatu yang kita pandang masuk akal sebagai fakta
10. Janganlah menyakini segala sesuatu hanya karena rasa hormat dan segan pada guru-guru spritual kita.
Seyogianya kita bisa mengatasi pendapat dan kepercayaan. Kita bisa menolak segala sesuatu yang mana jika dijalankan atau diterima akan menyebabkan meningkatnya kemarahan (Kebencian), keserakahan (Nafsu keinginan), dan kegelapan jiwa (pandangan salah). Pengatuan bahwa kita marah, serkah atau gelap jiwa tidak tergantung pada kepercayaan atau pendapat. Ingatlah kemarahan, keserakahan, dan kegelapan jiwa merupakan perbuatan tercela di muka bumi. artinya itu tidak bermanfaat dan semestinya dihindari.
Sebaliknya, kita bisa menerima segala sesuatu yang mana jika diterima dan dijalankan membawa cinta kasih tanpa syarat, berkecukupan, dan kebijaksanaan. Hal-hal ini memungkinkan kita pada setiap waktu dan tempat untuk mengembangkan pikiran yang bahagia penuh damai. Oleh karena itu, mereka yang bijaksana menjunjung cinta kasih tanpa syarat, berkecukupan, dan kebijaksanaan.
Hal inilah menjadi indikator atau kriteria kita dalam menerima kebenaran atau bukan; mengenai praktik spritual atau bukan.
1. Janganlah percaya begitu saja pada apa yang kita dengar hanya karena kita telah mendengar itu sejak lama
2. Janganlah mengikuti tradisi secara membuta hanya karena hal itu telah dipraktikkan secara turun temurun.
3. Janganlah cepat terpancing desas desus
4. Janganlah menyakini segala sesuatu hanya karena hal itu sesuai dengan ktab suci kita, karena pemahaman kita yang "kurang cerdas" dari maksud dan makna yang di tulis di kitab suci.
5. Janganlah membuat asumsi-asumsi secara bodoh
6. Janganlah tergesa-gesa menarik kesimpulan berdasarkan apa yang kita lihat dan dengar
7. Janganlah terkecoh oleh penampakan-penampakan luar
8. Janganlah berpegang kuat pada pandangan atau gagasan apapun hanya karena kita menyukainya
9. Janganlah menerima segala sesuatu yang kita pandang masuk akal sebagai fakta
10. Janganlah menyakini segala sesuatu hanya karena rasa hormat dan segan pada guru-guru spritual kita.
Seyogianya kita bisa mengatasi pendapat dan kepercayaan. Kita bisa menolak segala sesuatu yang mana jika dijalankan atau diterima akan menyebabkan meningkatnya kemarahan (Kebencian), keserakahan (Nafsu keinginan), dan kegelapan jiwa (pandangan salah). Pengatuan bahwa kita marah, serkah atau gelap jiwa tidak tergantung pada kepercayaan atau pendapat. Ingatlah kemarahan, keserakahan, dan kegelapan jiwa merupakan perbuatan tercela di muka bumi. artinya itu tidak bermanfaat dan semestinya dihindari.
Sebaliknya, kita bisa menerima segala sesuatu yang mana jika diterima dan dijalankan membawa cinta kasih tanpa syarat, berkecukupan, dan kebijaksanaan. Hal-hal ini memungkinkan kita pada setiap waktu dan tempat untuk mengembangkan pikiran yang bahagia penuh damai. Oleh karena itu, mereka yang bijaksana menjunjung cinta kasih tanpa syarat, berkecukupan, dan kebijaksanaan.
Hal inilah menjadi indikator atau kriteria kita dalam menerima kebenaran atau bukan; mengenai praktik spritual atau bukan.
Selasa, 26 Mei 2009
Pilar Bangsa Telah Runtuh (3)
Nabi besar Muhammad Saw, bersabda:
“Tegaknya bangsa di dunia ini karena empat pilar: Dengan ilmunya para Ulama, melalui keadilan para pemimpin, dengan kedermawanan orang kaya dan dengan doanya orang-orang miskin.”
1. Ilmunya para Ulama (pendidikan) (episode 1)
2. Keadilan Para Pemimpin (Episode 2)
3. Kedermawanan Orang kaya
Banyak orang-orang kaya di negeri ini, bahkan saking banyaknya, ketika negara ini mengalami krisis, negara ini tetap menjadi pasar potensial barang-barang mewah dunia, mulai dari perhiasan, mobil, rumah/apartemen, dan branded lainnya.
Sayangnya, kekayaan yang dimiliki oleh para "tuan tanah" ini diperoleh dari sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil. Sehingga, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin terpuruk. Orang-orang kaya di Indonesia lahir karena:
1. Mendapat fasilitas/privilege dari negara, karena kebetulan dekat dengan sumber kekuasaan. Persekongkolan ini melahirkan hubungan yang saling menguntungkan antara pengusaha dan penguasa. Untuk melihat hubungan ini bisa kita perhatikan ketika ada moment-moment politik, misalnya pemilu, pilkada dll. Mereka akan "menyumbang" dana untuk kepentingan politik calon, dengan komitmen akan memperoleh fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan usahanya, banyak kasus secara kasat mata, pemerintah (SBY) melakukan impunity (pembiaran) atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha/corporate. Lihat saja, kasus LUMPUR LAPINDO, sayup-sayup nyaris tak terdengar langkah tegas dan progresif dari pemerintah. Pertanyaannya berapa besar pemilik LAPINDO 'menyumbang" dana kampanye SBY? Nah...berharap kedermawanan pada kaum kaya seperti ini adalah bagaikan pungguk merindukan bulan. Jika adapun sumbangan untuk rakyat miskin dari mereka, yakinlah itu hanyalah sebagai bagian dari kampanye politik dan pencitraan politik bukan karena peduli dan cinta dengan orang miskin (makhluk yang paling disayang TUHAN).
2. Ada sekelompok orang menjadi kaya, karena merupakan lingkungan inti (dalam) kekuasaan, misalnya anak, teman, saudara dari Penguasa. Jika merujuk beberapa data bisnis dunia, maka kelompok ini hampir mencapai 50% dari orang kaya yang ada di Indonesia. Untuk menghindari protes dan citra politik yang buruk, biasanya mereka menjadi "hidden owners" dari beberapa perusahaan besar di Indonesia dan dunia. Kita masih ingat, ketika Tim Kejaksaan Agung yang dibentuk untuk memburu harta Soeharto dan Penjahat BLBI, mengumumkan tidak ada harta soeharto dan keluarga di Luar negeri. Berselang beberapa waktu, media massa di Indonesia dibikin heboh dengan transfer uang Tommy soeharto ke Indonesia dari Paribas, celakanya transfer tersebut malah menggunakan rekening Departemen Hukum dan HAM. Tak lama berselang, Pengadilan Australia juga meminta pemerintah Indonesia mengajukan surat permohonan penyitaan harta koruptor BLBI yang disimpan di Australia, demikian juga dengan harta Tommy Soeharto yang ditahan oleh pengadilan di paribas dan meminta pemerintah Indonesia mengajukan gugatan. Kelompok orang kaya seperti ini, sekarang makin banyak seiring dengan "keenganan" pemerintah SBY menerapkan keadilan berusaha di Indonesia. Lihat saja, akses modal siapa yang kuasai? Akses Pasar milik siapa? akses Informasi dan teknologi punya siapa?. Nah berharap pada orang kaya seperti ini agar peduli pada orang miskin sama dengan "jauh panggang dari api".
Diluar kelompok ini, kekayaan dikuasai oleh pengusaha asing yang selalu dilindungi oleh pemerintah, untuk melihat siapa saja yang perusahaan asing yang mendapat perlakuan khusus, tidak perlu pake data dan analisa yang terlalu rumit, sambil tidur-tiduran pun kita akan langsung menyebut nama PT. Freeport Indonesia, Newmont Indonesia, Rio Tinto, Exxon Mobile, Conoco, Shell, Mosanto dll. Bahkan, secara terbuka salah satu manager Mosanto (suaminya Sofia Latjuba) menyampaikan bahwa mereka telah menghabis jutaan USD untuk "menyogok" pejabat publik di Indonesia. Jadii, jangan terlalu berharap banyak saudara-saudaraku di papua, kaltim, riau, aceh dan morowali, poso, cepu, natuna dll akan dapat menikmati kekayaan alam dari negeri "tetesan surga" ini.
Pemerintahan ini memang telah berhasil menciptakan orang-orang kaya baru, baik lokal maupun asing yang predatorik. LANJUTKAN!!!!
“Tegaknya bangsa di dunia ini karena empat pilar: Dengan ilmunya para Ulama, melalui keadilan para pemimpin, dengan kedermawanan orang kaya dan dengan doanya orang-orang miskin.”
1. Ilmunya para Ulama (pendidikan) (episode 1)
2. Keadilan Para Pemimpin (Episode 2)
3. Kedermawanan Orang kaya
Banyak orang-orang kaya di negeri ini, bahkan saking banyaknya, ketika negara ini mengalami krisis, negara ini tetap menjadi pasar potensial barang-barang mewah dunia, mulai dari perhiasan, mobil, rumah/apartemen, dan branded lainnya.
Sayangnya, kekayaan yang dimiliki oleh para "tuan tanah" ini diperoleh dari sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil. Sehingga, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin terpuruk. Orang-orang kaya di Indonesia lahir karena:
1. Mendapat fasilitas/privilege dari negara, karena kebetulan dekat dengan sumber kekuasaan. Persekongkolan ini melahirkan hubungan yang saling menguntungkan antara pengusaha dan penguasa. Untuk melihat hubungan ini bisa kita perhatikan ketika ada moment-moment politik, misalnya pemilu, pilkada dll. Mereka akan "menyumbang" dana untuk kepentingan politik calon, dengan komitmen akan memperoleh fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan usahanya, banyak kasus secara kasat mata, pemerintah (SBY) melakukan impunity (pembiaran) atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha/corporate. Lihat saja, kasus LUMPUR LAPINDO, sayup-sayup nyaris tak terdengar langkah tegas dan progresif dari pemerintah. Pertanyaannya berapa besar pemilik LAPINDO 'menyumbang" dana kampanye SBY? Nah...berharap kedermawanan pada kaum kaya seperti ini adalah bagaikan pungguk merindukan bulan. Jika adapun sumbangan untuk rakyat miskin dari mereka, yakinlah itu hanyalah sebagai bagian dari kampanye politik dan pencitraan politik bukan karena peduli dan cinta dengan orang miskin (makhluk yang paling disayang TUHAN).
2. Ada sekelompok orang menjadi kaya, karena merupakan lingkungan inti (dalam) kekuasaan, misalnya anak, teman, saudara dari Penguasa. Jika merujuk beberapa data bisnis dunia, maka kelompok ini hampir mencapai 50% dari orang kaya yang ada di Indonesia. Untuk menghindari protes dan citra politik yang buruk, biasanya mereka menjadi "hidden owners" dari beberapa perusahaan besar di Indonesia dan dunia. Kita masih ingat, ketika Tim Kejaksaan Agung yang dibentuk untuk memburu harta Soeharto dan Penjahat BLBI, mengumumkan tidak ada harta soeharto dan keluarga di Luar negeri. Berselang beberapa waktu, media massa di Indonesia dibikin heboh dengan transfer uang Tommy soeharto ke Indonesia dari Paribas, celakanya transfer tersebut malah menggunakan rekening Departemen Hukum dan HAM. Tak lama berselang, Pengadilan Australia juga meminta pemerintah Indonesia mengajukan surat permohonan penyitaan harta koruptor BLBI yang disimpan di Australia, demikian juga dengan harta Tommy Soeharto yang ditahan oleh pengadilan di paribas dan meminta pemerintah Indonesia mengajukan gugatan. Kelompok orang kaya seperti ini, sekarang makin banyak seiring dengan "keenganan" pemerintah SBY menerapkan keadilan berusaha di Indonesia. Lihat saja, akses modal siapa yang kuasai? Akses Pasar milik siapa? akses Informasi dan teknologi punya siapa?. Nah berharap pada orang kaya seperti ini agar peduli pada orang miskin sama dengan "jauh panggang dari api".
Diluar kelompok ini, kekayaan dikuasai oleh pengusaha asing yang selalu dilindungi oleh pemerintah, untuk melihat siapa saja yang perusahaan asing yang mendapat perlakuan khusus, tidak perlu pake data dan analisa yang terlalu rumit, sambil tidur-tiduran pun kita akan langsung menyebut nama PT. Freeport Indonesia, Newmont Indonesia, Rio Tinto, Exxon Mobile, Conoco, Shell, Mosanto dll. Bahkan, secara terbuka salah satu manager Mosanto (suaminya Sofia Latjuba) menyampaikan bahwa mereka telah menghabis jutaan USD untuk "menyogok" pejabat publik di Indonesia. Jadii, jangan terlalu berharap banyak saudara-saudaraku di papua, kaltim, riau, aceh dan morowali, poso, cepu, natuna dll akan dapat menikmati kekayaan alam dari negeri "tetesan surga" ini.
Pemerintahan ini memang telah berhasil menciptakan orang-orang kaya baru, baik lokal maupun asing yang predatorik. LANJUTKAN!!!!
Kamis, 21 Mei 2009
Pilar Bangsa Telah Runtuh (2)
Nabi besar Muhammad Saw, bersabda:
“Tegaknya bangsa di dunia ini karena empat pilar: Dengan ilmunya para Ulama, melalui keadilan para pemimpin, dengan kedermawanan orang kaya dan dengan doanya orang-orang miskin.”
1. Ilmunya Para Ulama (Pendidikan)...(episode 1)
2. Keadilan Para Pemimpin
Pemimpin adalah bagaikan lokomotif yang selalu berjalan pada rel yang telah disepakati bersama. Jika sang lokomotif keluar dari jalur (rel) yang telah disepakati maka gerbong yang dibawa akan berantakan dan hancur berkeping-keping. Akibatnya akan menelan korban dan kesedihan yang luar biasa bagi penumpangnya. Lokomotif tidak boleh ragu apalagi takut untuk mencapai kesejahteraan untuk rakyat nya. Pemimpin harus yang selalu terdepan menghadapi gelombang pasang surut bernegara. Lihatlah... tidak boleh pemimpin tersebut membedakan antara satu gerbong dengan gerbong yang lain....hanya karena penumpangnya berbeda budaya, agama, ras, kelamin atau perbedaan yang memang sudah kodrat manusiawi di dunia ini. Beberapa tahun belakangan ini keadilan adalah sesuatu yang sangat mahal bahkan hampir-hampir tidak bisa kita jangkau dengan tangan dan hati kita. Keadilan di Indonesia hanyalah sebatas jargon kampanye para "pemimpin" yang tidak boleh di utak atik oleh kaum miskin, bahkan berhayalpun untuk keadilan adalah sesuatu yang salah di Republik ini. Ketika krisis melanda, mereka berduyun-duyun memberikan stimulus, berkedok keadilan maka di lelapkan lah kaum miskin dengan bantuan tunai langsung (BLT) yang tiada berguna, sementara di istana dengan karpet merah mereka mengelar pesta keserakahan bersama para pemodal predatorik. Silahkan tuan-tuan berinvestasi disini...kami akan jaga asset tuan, jangan takut dengan protes kaum papa, karena mereka telah lelap dengan subsidi, jika ada yang protes, Tentara kami siap menjadi "anjing penjaga" asset anda. Jika nanti ada krisis lagi silahkan tuan bawa uang anda kemana pun tuan inginkan...ssttt...jangan panik kami hanya pura-pura marah dan akan menjerat tuan dengan hukum kami yang bisa kita bolak balik atau kalau tuan mau kangkangi hukum kami maka kami akan fasilitasi agar terlihat adil dan cerdas. Jangan cemas, tiap tahun kami umumkan pertumbuhan ekonomi meningkat 7%, Cadangan devisa aman bahkan 10 kali lipat meningkat, pelaksanaan otonomi berjalan dengan baik, kami peduli dan konsen dengan pemberantasan korupsi. Jika perlu besan kami pun akan kami tangkap sebagai lagu pengantar tidur rakyat kami. Mereka tidak akan pernah tahu, pertumbuhan ekonomi itu hanya fiktif karena industri kami mati, jika pun ada yang menggeliat itu hanya di sektor jasa...yang tidak akan banyak menyerap tenaga kerja. Makanya sesungguhnya tingkat pengangguran kami jumlahnya terus naik, tapi kami laporkan pengganguran kami berkurang karena tukang ojek, buruh panggul dan pekerja kasar lainnya kami angap bukan penggangguran. Perbankan kami normal-normal saja, karena kami simpan semua uang negara (APBN/APBD) dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) aman toh... Kami telah lunasi utang kami pada IMF, sehingga kami laporkan bahwa Utang negara kita telah lunas. Mereka tidak sadar bahwa kami juga telah menerbitkan surat utang negara (SUN) yang tak terhingga jumlahnya. Sehingga sesungguhnya utang negara ini telah naik 30% dari jumlah utang sebelumnya. Kami berikan subsidi langsung pada rakyat kami, sehingga dengan uang 200 ribu mereka terbantu untuk makan, dan menyebut pemerintahan kami peduli. Sementara harga beras terus menanjak, jika mereka bertanya maka kami cukup jawab, "Harga beras naik ya bagus, agar petani bisa sejahtera". Padahal harga pupuk membumbung tinggi bahkan nyaris tidak bisa diperoleh. selain mahal, pupuknya juga langka, karena pupuk itu kami datangkan dari "mener" di swedia dan jerman. Kami biarkan saja pabrik pupuk kami mati karena gas sebagai bahan baku pupuk kami jual seluruhnya pada cina, jepang dan korea dengan harga murah. Walaupun harga beras mahal di pasar, harga gabah tetap 2000/kilo. Jika petani nya protes, kami cukup jawab "jika harga gabah naik, rakyat bisa sengsara"...maka kami sebagai pemerintah harus menjaga dan menyeimbangkan semua kebutuhan rakyat.
Kita telah berhasil dengan banyak program, walau makin banyak anak-anak dijalanan yang mestinya sekolah menjadi peminta-minta, pengamen dll. Kita berhasil kok, walau banyak pemuda putus sekolah melamun dan berhayal di pintu kubur. Banyak bayi yang mengalami krisis gizi.
Kita telah berhasil saudara ku. LANJUTKAN............!!!
“Tegaknya bangsa di dunia ini karena empat pilar: Dengan ilmunya para Ulama, melalui keadilan para pemimpin, dengan kedermawanan orang kaya dan dengan doanya orang-orang miskin.”
1. Ilmunya Para Ulama (Pendidikan)...(episode 1)
2. Keadilan Para Pemimpin
Pemimpin adalah bagaikan lokomotif yang selalu berjalan pada rel yang telah disepakati bersama. Jika sang lokomotif keluar dari jalur (rel) yang telah disepakati maka gerbong yang dibawa akan berantakan dan hancur berkeping-keping. Akibatnya akan menelan korban dan kesedihan yang luar biasa bagi penumpangnya. Lokomotif tidak boleh ragu apalagi takut untuk mencapai kesejahteraan untuk rakyat nya. Pemimpin harus yang selalu terdepan menghadapi gelombang pasang surut bernegara. Lihatlah... tidak boleh pemimpin tersebut membedakan antara satu gerbong dengan gerbong yang lain....hanya karena penumpangnya berbeda budaya, agama, ras, kelamin atau perbedaan yang memang sudah kodrat manusiawi di dunia ini. Beberapa tahun belakangan ini keadilan adalah sesuatu yang sangat mahal bahkan hampir-hampir tidak bisa kita jangkau dengan tangan dan hati kita. Keadilan di Indonesia hanyalah sebatas jargon kampanye para "pemimpin" yang tidak boleh di utak atik oleh kaum miskin, bahkan berhayalpun untuk keadilan adalah sesuatu yang salah di Republik ini. Ketika krisis melanda, mereka berduyun-duyun memberikan stimulus, berkedok keadilan maka di lelapkan lah kaum miskin dengan bantuan tunai langsung (BLT) yang tiada berguna, sementara di istana dengan karpet merah mereka mengelar pesta keserakahan bersama para pemodal predatorik. Silahkan tuan-tuan berinvestasi disini...kami akan jaga asset tuan, jangan takut dengan protes kaum papa, karena mereka telah lelap dengan subsidi, jika ada yang protes, Tentara kami siap menjadi "anjing penjaga" asset anda. Jika nanti ada krisis lagi silahkan tuan bawa uang anda kemana pun tuan inginkan...ssttt...jangan panik kami hanya pura-pura marah dan akan menjerat tuan dengan hukum kami yang bisa kita bolak balik atau kalau tuan mau kangkangi hukum kami maka kami akan fasilitasi agar terlihat adil dan cerdas. Jangan cemas, tiap tahun kami umumkan pertumbuhan ekonomi meningkat 7%, Cadangan devisa aman bahkan 10 kali lipat meningkat, pelaksanaan otonomi berjalan dengan baik, kami peduli dan konsen dengan pemberantasan korupsi. Jika perlu besan kami pun akan kami tangkap sebagai lagu pengantar tidur rakyat kami. Mereka tidak akan pernah tahu, pertumbuhan ekonomi itu hanya fiktif karena industri kami mati, jika pun ada yang menggeliat itu hanya di sektor jasa...yang tidak akan banyak menyerap tenaga kerja. Makanya sesungguhnya tingkat pengangguran kami jumlahnya terus naik, tapi kami laporkan pengganguran kami berkurang karena tukang ojek, buruh panggul dan pekerja kasar lainnya kami angap bukan penggangguran. Perbankan kami normal-normal saja, karena kami simpan semua uang negara (APBN/APBD) dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) aman toh... Kami telah lunasi utang kami pada IMF, sehingga kami laporkan bahwa Utang negara kita telah lunas. Mereka tidak sadar bahwa kami juga telah menerbitkan surat utang negara (SUN) yang tak terhingga jumlahnya. Sehingga sesungguhnya utang negara ini telah naik 30% dari jumlah utang sebelumnya. Kami berikan subsidi langsung pada rakyat kami, sehingga dengan uang 200 ribu mereka terbantu untuk makan, dan menyebut pemerintahan kami peduli. Sementara harga beras terus menanjak, jika mereka bertanya maka kami cukup jawab, "Harga beras naik ya bagus, agar petani bisa sejahtera". Padahal harga pupuk membumbung tinggi bahkan nyaris tidak bisa diperoleh. selain mahal, pupuknya juga langka, karena pupuk itu kami datangkan dari "mener" di swedia dan jerman. Kami biarkan saja pabrik pupuk kami mati karena gas sebagai bahan baku pupuk kami jual seluruhnya pada cina, jepang dan korea dengan harga murah. Walaupun harga beras mahal di pasar, harga gabah tetap 2000/kilo. Jika petani nya protes, kami cukup jawab "jika harga gabah naik, rakyat bisa sengsara"...maka kami sebagai pemerintah harus menjaga dan menyeimbangkan semua kebutuhan rakyat.
Kita telah berhasil dengan banyak program, walau makin banyak anak-anak dijalanan yang mestinya sekolah menjadi peminta-minta, pengamen dll. Kita berhasil kok, walau banyak pemuda putus sekolah melamun dan berhayal di pintu kubur. Banyak bayi yang mengalami krisis gizi.
Kita telah berhasil saudara ku. LANJUTKAN............!!!
Kamis, 26 Februari 2009
Energi dan Semangat KU
Beberapa hari ini saya di Jakarta, sangat senang sekali kembali bisa berkumpul dengan keluarga. Anak ku yang lucu-lucu selalu bisa menghapus lelah dan letih setelah berkeliling di Dapil. Istriku yang selalu senyum dan setia mendukung setiap langkah politikku tentu saja sebuah energi yang tak ternilai. Mereka adalah jiwa ku.
Beberapa hari di rumah, aku bisa kembali mengajari anak-anak ku tentang kehidupan dunia, moral dan mengenali dunia ini. Kadang ingin rasanya aku selalu bersama mereka. Ya... anak-anak dan istriku adalah manusia-manusia yang harus selalu kujaga dan kusayangi. Karena mereka inilah tanggungjawabku sebagai kepala Rumah tangga.
Jauh di Sumbar sana, teman-teman (masih muda semua) tetap melakukan kerja-kerja politik untuk memenangi pemilu 2009. Terima kasih saudara-saudaraku...walau tanpa uang yang berlimpah, dengan komitmen berkarya yang terbaik, menjadi energi dan semangat kita untuk memenangkan hati rakyat. Bersama-sama kita selalu bisa melakukan apapun untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat. Mudah-mudahan semua mendapat Ridho dari Allah Sang Pencinta.
Besok, senin tanggal 2 Maret saya mesti kembali ke dapil (Pariaman, Kab. Padang Pariaman, Agam dan Bukittinggi) untuk sosialisasi, berdiskusi dan yang pasti melakukan kerja-kerja politik guna menuju kursi parlemen. Anak-anak ku maafkan ayah tidak bisa setiap saat bisa bersama kalian, kita tidak bisa bernyanyi dan belajar bersama. Tetapi hati dan jiwa ayah selalu hadir disamping kalian untuk bernyanyi, belajar dan menari bersama. Istriku.. maafkan suami mu ini karena selama aku ke dapil dirimu harus sendirian menjaga buah hati kita. Tapi percayalah..setiap langkah dan denyut nadiku, adalah do'a yang selalu mengiringi langkah dan hari-harimu. I LOVE U .......
Beberapa hari di rumah, aku bisa kembali mengajari anak-anak ku tentang kehidupan dunia, moral dan mengenali dunia ini. Kadang ingin rasanya aku selalu bersama mereka. Ya... anak-anak dan istriku adalah manusia-manusia yang harus selalu kujaga dan kusayangi. Karena mereka inilah tanggungjawabku sebagai kepala Rumah tangga.
Jauh di Sumbar sana, teman-teman (masih muda semua) tetap melakukan kerja-kerja politik untuk memenangi pemilu 2009. Terima kasih saudara-saudaraku...walau tanpa uang yang berlimpah, dengan komitmen berkarya yang terbaik, menjadi energi dan semangat kita untuk memenangkan hati rakyat. Bersama-sama kita selalu bisa melakukan apapun untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat. Mudah-mudahan semua mendapat Ridho dari Allah Sang Pencinta.
Besok, senin tanggal 2 Maret saya mesti kembali ke dapil (Pariaman, Kab. Padang Pariaman, Agam dan Bukittinggi) untuk sosialisasi, berdiskusi dan yang pasti melakukan kerja-kerja politik guna menuju kursi parlemen. Anak-anak ku maafkan ayah tidak bisa setiap saat bisa bersama kalian, kita tidak bisa bernyanyi dan belajar bersama. Tetapi hati dan jiwa ayah selalu hadir disamping kalian untuk bernyanyi, belajar dan menari bersama. Istriku.. maafkan suami mu ini karena selama aku ke dapil dirimu harus sendirian menjaga buah hati kita. Tapi percayalah..setiap langkah dan denyut nadiku, adalah do'a yang selalu mengiringi langkah dan hari-harimu. I LOVE U .......
Senin, 16 Februari 2009
Posisi Strategis Pemilih dalam Pemilu
Pemilu 2009 diyakini akan memunculkan berbagai bentuk kompetisi baru dalam merebut suara pemilih. Keyakinan ini didasari Pembangunan sector pertanian dan perikanan selama ini belum menjadi prioritaoleh beberapa faktor, yaitu Pemilu 2009 diikuti oleh 38 Partai Politik Nasional dan 6 Partai Politik lokal. Tentu saja, setiap partai akan bekerja secara maksimal agar partai mendulang dukungan dari pemilih. Berbagai cara dilakukan oleh partai politik, mulai dari konsolidasi internal, pendekatan pada kelompok kepentingan (ulama, organisasi agama, kepemudaan, serikat pekerja dan lain-lain). Berbagai macam media kampanye terus dilakukan oleh partai politik dan calon legislatif. Tak hanya itu, janji-janji politik pun terlontar, ada yang akan berjuang untuk rakyat, ada yang peduli dengan rakyat, ada yang bicara pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Upaya-upaya mengambil simpati pemilih ini telah dilakukan sejak kampanye dimulai bulan Juli 2008. Walaupun, sesungguhnya jauh sebelum bulan Juli pun partai-partai dan calon legislatif telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dalam beragam bentuk.
Pemilu adalah prosedur demokratis dalam memilih pemimpin (Presiden, Gubernur, Bupati/walikota dan Anggotta DPR/D). Pemilu juga akan menghasilkan pemimpin yang akan bekerja selama 5 tahun dalam mengelola negara. Dalam konteks pemilu, maka pemilih memiliki posisi yang sangat strategis. Pemilih sebagai penentu nasib partai politik dan calon legislatif dalam pemilu. Artinya, penghargaan dan pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan pemilih harus diperhatikan oleh parpol dan calon legislatif. Sayangnya, penghargaan dan pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan masyarakat pemilih oleh partai politik dan calon legislatif di artikan dengan memberi janji politik tanp melihat realitas yang berkembang di masyarakat. Bahkan, ta jarang keinginan dan kebutuhan masyarakat pemilih ”hanya” dihargai dengan sejumlah uang atau barang lainnya.
Kebutuhan dan keinginan masyarakat yang diganti dengan ”uang” adalah bentuk penghinaan terhadap masyarakat pemilih itu sendiri. Mestinya, masyarakat terima saja uang tersebut, tetapi dalam memilih calon legislatif dan partai politik dalam pemilu 9 April 2009, tetap mengedepankan visi misi, karya dan jejak rekam calon legislatif. Sudah saatnya, masyarakat ”menghukum” Partai politik dan calon legislatif yang menyamakan keinginan dan kebutuhan masyarakat sama dengan ”uang 100 ribu, benih atau makan-makan”.
Jadilah pemilih cerdas
Mengadapi pemilu tanggal 9 April 2009, pemilih harus lebih cerdas. Karena jika salah dalam memilih, maka negara yang sudah ditepi jurang kehancuran akan makin parah, minimal dalam 5 tahun kedepan. Untuk itu perlu kiranya pemilih melakukan beberapa langkah yaitu:
1. Kenali partai politik dan calon legislatif sesuai dengan daerah pemilihan masing-masing. Informasi tentang partai politik dan calon legislatif bisa di akses di KPU, media massa, TV dan internet.
2. Kenali jejak rekam calon legislatif melalui karya-karya calon legislatif.
3. Jika ada Partai politik atau Calon Legislatif memberi uang, barang (benih, pupuk dll), terima saja, tetapi dalam pemilu 9 April 2009, pilihlah partai atau calon legislatif yang benar-benar memiliki jejak rekam yang bersih dan anda kenal.
4. Logikanya apabila calon legislatif memberi uang, maka akan ada kecenderungan pada saat duduk sebagai anggota DPR/D pasti akan korupsi dan tidak peduli dengan kepentingan masyarakat. Karena, gaji anggota DPR/D tidak akan cukup untuk mengembalikan ”modal” bagi-bagi uang yang dilakukan dalam pemilu.
5. Jika uang yang dibagi-bagikan dalam pemilu itu berasal dari pengusaha (penyandang dana) maka dapat dipastikan ketika calon legislatif duduk sebagai anggota DPR/D hanya akan memperjuangkan kepentingan penyandang dana.
Sebagai pemilih ditangan anda lah nasib Negara ini 5 tahun yang akan datang. Saatnya pilih calon legislatif yang bersih, anti korupsi, peduli petani dan nelayan, buruh, pedagang kecil, pegawai serta peduli ibu dan anak. Jadilah pemilih cerdas, INDONESIA JAYA. MERDEKA!!!
*Koordinator Solidaritas Indonesia
Pemilu adalah prosedur demokratis dalam memilih pemimpin (Presiden, Gubernur, Bupati/walikota dan Anggotta DPR/D). Pemilu juga akan menghasilkan pemimpin yang akan bekerja selama 5 tahun dalam mengelola negara. Dalam konteks pemilu, maka pemilih memiliki posisi yang sangat strategis. Pemilih sebagai penentu nasib partai politik dan calon legislatif dalam pemilu. Artinya, penghargaan dan pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan pemilih harus diperhatikan oleh parpol dan calon legislatif. Sayangnya, penghargaan dan pemahaman terhadap keinginan dan kebutuhan masyarakat pemilih oleh partai politik dan calon legislatif di artikan dengan memberi janji politik tanp melihat realitas yang berkembang di masyarakat. Bahkan, ta jarang keinginan dan kebutuhan masyarakat pemilih ”hanya” dihargai dengan sejumlah uang atau barang lainnya.
Kebutuhan dan keinginan masyarakat yang diganti dengan ”uang” adalah bentuk penghinaan terhadap masyarakat pemilih itu sendiri. Mestinya, masyarakat terima saja uang tersebut, tetapi dalam memilih calon legislatif dan partai politik dalam pemilu 9 April 2009, tetap mengedepankan visi misi, karya dan jejak rekam calon legislatif. Sudah saatnya, masyarakat ”menghukum” Partai politik dan calon legislatif yang menyamakan keinginan dan kebutuhan masyarakat sama dengan ”uang 100 ribu, benih atau makan-makan”.
Jadilah pemilih cerdas
Mengadapi pemilu tanggal 9 April 2009, pemilih harus lebih cerdas. Karena jika salah dalam memilih, maka negara yang sudah ditepi jurang kehancuran akan makin parah, minimal dalam 5 tahun kedepan. Untuk itu perlu kiranya pemilih melakukan beberapa langkah yaitu:
1. Kenali partai politik dan calon legislatif sesuai dengan daerah pemilihan masing-masing. Informasi tentang partai politik dan calon legislatif bisa di akses di KPU, media massa, TV dan internet.
2. Kenali jejak rekam calon legislatif melalui karya-karya calon legislatif.
3. Jika ada Partai politik atau Calon Legislatif memberi uang, barang (benih, pupuk dll), terima saja, tetapi dalam pemilu 9 April 2009, pilihlah partai atau calon legislatif yang benar-benar memiliki jejak rekam yang bersih dan anda kenal.
4. Logikanya apabila calon legislatif memberi uang, maka akan ada kecenderungan pada saat duduk sebagai anggota DPR/D pasti akan korupsi dan tidak peduli dengan kepentingan masyarakat. Karena, gaji anggota DPR/D tidak akan cukup untuk mengembalikan ”modal” bagi-bagi uang yang dilakukan dalam pemilu.
5. Jika uang yang dibagi-bagikan dalam pemilu itu berasal dari pengusaha (penyandang dana) maka dapat dipastikan ketika calon legislatif duduk sebagai anggota DPR/D hanya akan memperjuangkan kepentingan penyandang dana.
Sebagai pemilih ditangan anda lah nasib Negara ini 5 tahun yang akan datang. Saatnya pilih calon legislatif yang bersih, anti korupsi, peduli petani dan nelayan, buruh, pedagang kecil, pegawai serta peduli ibu dan anak. Jadilah pemilih cerdas, INDONESIA JAYA. MERDEKA!!!
*Koordinator Solidaritas Indonesia
Rabu, 04 Februari 2009
Cape; nikmat
Hari ini diawali dengan sesuatu yang membuat semuanya pasti berantakan. Bermula dari telpon yang mendadak saya terima, segera setlah menerima telpon tersebut saya berangkat ke Bandara Soekarno-hatta. Memang, sebenarnya hari ini saya mesti ke padang. Namun, karena telpon tersebut saya mempercepat penerbangan saya hari ini. Sialnya, begitu sampai bandara, dengan setengah berlari, saya harus ngantri untuk cek in. Seperti biasa dan dari dulu tidak berubah, Bandara Soekarno Hatta selalu semberaut dan tidak ada informasi yang jelas. Baik dari pengelola bandara -Angkasapura- maupun dari masakapai penerbangan. Padahal Bandara ini adalah pintu gerbang utama masuk ke Indonesia. Mulai dari calo, jorok dan bau, lalu lintas yang awut-awutan sampai pada pelayanan penerbangan yang kacau balau. Tapi ya sudahlah...inilah negeriku.
Setelah cek in, bergegas saya menuju ruang tunggu, jam menunjukkan pukul 15.30 wib. Sesuai schedule, saya mesti terbang jam 15.40 wib. Saya terus berlari menuju ruang tunggu, hampir saja saya terpeleset karena lantai menuju ruang tunggu yang basah karena air hujan yang memang sedang membasahi sekujur Jakarta. Lha? Bandara International kok bisa-bisanya lantainya licin karena hujan...duh...nambah lagi satu keluhan. Ya sudah maklumi aja, karena ini Republik kita.
Sepanjang koridor menuju ruang tunggu, banyak orang nongkrong seenaknya, ada yang tidur-tiduran, berselonjor, dan enak benar tuh rokok ngepul. Mirip tempat penampungan TKI ya...atau penampungan Transmigrasi zaman orde baru. Smoking Area yang tersedia seperti hiasan yang tak berguna, tong sampah ada dimana-mana, tapi sampah berserakan dimana-dimana. Kapan kita bisa tertib dan disiplin?
Sampai di ruang tunggu, tanya petugas maskapai:
Saya : Udah Boarding?
Petugas : sebentar lagi pak
s: Jam berapa?
p: Sebentar lagi pak
s: 5 menit? 10 menit? atau 30 menit?
p: sebentar lagi pak, ntar juga di panggil
waduh.... ini petugas nggak ngerti bahasa Indonesia kali ya. kok jawabannya nggak jelas, sebentar lagi, weleh-weleh. Padahal jika masih agak lama, saya berniat mau makan dulu, karena tadi nggak sempat makan siang. Yah....di negeri ini tidak ada yang bisa pasti dan jelas. semua seolah-olah di abaikan. Padahal hak penumpang untuk dapat informasi dan pelayanan yang baik dari maskapai penerbangan.
Akhirnya, seperti dugaan saya, penerbangan saya di delay...... cape deh...
Pukul 18.00 wib akhirnya pesawat yang saya tumpangi take off menuju padang. Perut saya tetap dalam keadaan kosong karena belum sempat makan, dan seperti dugaan saya, dipesawat juga tidak ada makanan dan tidak ada yang jual. Ya akhirnya saya berusaha tidur untuk menghibur perut yan terus kriuk-kriuk protes belum di isi. Akhirnya saya landing di PAdang dengan selamat. Begitu keluar pesawat hanya satu tujuan saya yaitu MAKAN. lapar bro...
Setelah celingak-celinguk, akhirnya saya menemukan rumah makan yang masih buka dan satu-satunya yang buka malam itu. Itupun sudah beres-beres mau tutup. Dengan setengah hati mereka melayani pesanan makanan saya.... duh saya langsung makan dengan lahap...begitu selesai, rumah makan itupun tutup. Tapi bukan itu yang membuat saya kaget, tetapi ketika mereka menyodorkan bilyet pembayaran atas nasi soto yang saya makan -hanya ini menu yang ada-, di situ tertulis angka 120 ribu...mak...soto apa pula ini...duh..dengan kesal saya bayar dan langsung naik taksi dengan satu tujuan pulang dulu ke pariaman kampung tercinta.
Pagi hari, bangun sholat subuh, olah raga ringan, mandi dan siap-siap melakukan kerja-kerja politik, maklum caleg ni he he. Sambil berjalan keluar rumah, saya datangi warung favorit saya untuk sarapan pagi, Ketupat gulai pakis pake sala bulek khas pariaman. Saya dah membayangkan kenikmatannya. Gulai pakis yang agak asam tapi pedas di campur dengan sala yang berisi ikan...nikmat..... Tak lama saya sampai di warung itu...karena memang jaraknya dari rumah sekitar 50 meter. Ternyata warung itu tutup. Tidak ada yang tahu kenapa dia tutup. Akhirnya saya putuskan sarapan di warung lontong mie (walau saya kurang suka) yang dekat masjid. Lumayan untuk menganjal perut. Saya melirik jam tangan, wow sekarang pukul 07.30 wib, saya harus sampai di daerah yang saya tuju pukul 9.00 wib karena janji pertemuan dengan kelompok tani dan nelayan. Bergegas saya bayar dan meninggalkan warung tersebut menuju halte. Saya mesti naik bis, karena memang nggak punya mobil di dapil (caleg kere ni).
Bis yang biasanya lewat setiap 10 menit, tak kunjung ada, kalaupun ada udah penuh sesak...waduh...bisa terlambat ni...belum jadi wakil rakyat aja dah jam karet...apa nanti kata konsituen saya? berbagai macam pikiran berkecamuk dalam pikiran saya.... Tapi yang jelas itu karena saya tidak terbiasa terlambat. Akhirnya Bis yang saya tunggu datang juga, jam sudah menujukkan pukul 8.45 wib, saya telpon teman yang di sana, untuk memberi tahu bahwa saya terlambat, hp nya tidak aktif. Akhirnya saya hanya pasrah dan berdoa agar semuanya lancar. Setelah setengah jam perjalanan, saya harus naik angkot untuk mencapai daerah tujuan. Alhamdulillah semuanya lancar.
Ketika saya datang ke lokasi, sudah ramai orang berkumpul...duh malu ni terlambat....Tapi saya harus hadapi dan berkata jujur bahwa terlambat bukan budaya yang baik. Akhirnya pertemuan di mulai. Banyak hal yang disampaikan oleh petani dan enlayan pada saya. Mulai dari harapan, ketakutan, keluhan, ketidakpercayaan, uji kemampuan, trackrecord dll. Saya hanya mendengar, dan tidak memberi jawaban atau janji apapun pada mereka. Kita hanya coba bangun komitmen bersama, yang Insya Allah saya akan jalankan, baik menjadi anggota DPR atau tidak jadi anggota DPR. Karena apa yang mereka sampaikan sesungguhnya adalah tanggungjawab kita bersama untuk memperbaiki nasib dan martabat hidup petani dan nelayan di negeri ini.
Pertemuan di akhiri dengan saling tukar no hp bagi yang punya hp. Tetapisatu yang paling berkesan di hati saya bahwa, pertemuan ini membuat saya menemukan keluarga baru, Indonesia yang selama ini hilang, semua muncul dalam pertemuan ini. Saya diam sejenak...mungkin ini hikmah dari kesemberawutan yang saya alami dari mulai berangkat sampai sebelum pertemuan ini. Ketika menulis blog ini, kami baru saya berdiskusi tentang manusia dan matabat kemanusiaan. Saya banyak dapat ilmu dari mereka tentang memahami hidup dan manusia...inilah kenikmatan yang luar biasa di bandingkan ketupat gulai pakis pake sala bulek...
Setelah cek in, bergegas saya menuju ruang tunggu, jam menunjukkan pukul 15.30 wib. Sesuai schedule, saya mesti terbang jam 15.40 wib. Saya terus berlari menuju ruang tunggu, hampir saja saya terpeleset karena lantai menuju ruang tunggu yang basah karena air hujan yang memang sedang membasahi sekujur Jakarta. Lha? Bandara International kok bisa-bisanya lantainya licin karena hujan...duh...nambah lagi satu keluhan. Ya sudah maklumi aja, karena ini Republik kita.
Sepanjang koridor menuju ruang tunggu, banyak orang nongkrong seenaknya, ada yang tidur-tiduran, berselonjor, dan enak benar tuh rokok ngepul. Mirip tempat penampungan TKI ya...atau penampungan Transmigrasi zaman orde baru. Smoking Area yang tersedia seperti hiasan yang tak berguna, tong sampah ada dimana-mana, tapi sampah berserakan dimana-dimana. Kapan kita bisa tertib dan disiplin?
Sampai di ruang tunggu, tanya petugas maskapai:
Saya : Udah Boarding?
Petugas : sebentar lagi pak
s: Jam berapa?
p: Sebentar lagi pak
s: 5 menit? 10 menit? atau 30 menit?
p: sebentar lagi pak, ntar juga di panggil
waduh.... ini petugas nggak ngerti bahasa Indonesia kali ya. kok jawabannya nggak jelas, sebentar lagi, weleh-weleh. Padahal jika masih agak lama, saya berniat mau makan dulu, karena tadi nggak sempat makan siang. Yah....di negeri ini tidak ada yang bisa pasti dan jelas. semua seolah-olah di abaikan. Padahal hak penumpang untuk dapat informasi dan pelayanan yang baik dari maskapai penerbangan.
Akhirnya, seperti dugaan saya, penerbangan saya di delay...... cape deh...
Pukul 18.00 wib akhirnya pesawat yang saya tumpangi take off menuju padang. Perut saya tetap dalam keadaan kosong karena belum sempat makan, dan seperti dugaan saya, dipesawat juga tidak ada makanan dan tidak ada yang jual. Ya akhirnya saya berusaha tidur untuk menghibur perut yan terus kriuk-kriuk protes belum di isi. Akhirnya saya landing di PAdang dengan selamat. Begitu keluar pesawat hanya satu tujuan saya yaitu MAKAN. lapar bro...
Setelah celingak-celinguk, akhirnya saya menemukan rumah makan yang masih buka dan satu-satunya yang buka malam itu. Itupun sudah beres-beres mau tutup. Dengan setengah hati mereka melayani pesanan makanan saya.... duh saya langsung makan dengan lahap...begitu selesai, rumah makan itupun tutup. Tapi bukan itu yang membuat saya kaget, tetapi ketika mereka menyodorkan bilyet pembayaran atas nasi soto yang saya makan -hanya ini menu yang ada-, di situ tertulis angka 120 ribu...mak...soto apa pula ini...duh..dengan kesal saya bayar dan langsung naik taksi dengan satu tujuan pulang dulu ke pariaman kampung tercinta.
Pagi hari, bangun sholat subuh, olah raga ringan, mandi dan siap-siap melakukan kerja-kerja politik, maklum caleg ni he he. Sambil berjalan keluar rumah, saya datangi warung favorit saya untuk sarapan pagi, Ketupat gulai pakis pake sala bulek khas pariaman. Saya dah membayangkan kenikmatannya. Gulai pakis yang agak asam tapi pedas di campur dengan sala yang berisi ikan...nikmat..... Tak lama saya sampai di warung itu...karena memang jaraknya dari rumah sekitar 50 meter. Ternyata warung itu tutup. Tidak ada yang tahu kenapa dia tutup. Akhirnya saya putuskan sarapan di warung lontong mie (walau saya kurang suka) yang dekat masjid. Lumayan untuk menganjal perut. Saya melirik jam tangan, wow sekarang pukul 07.30 wib, saya harus sampai di daerah yang saya tuju pukul 9.00 wib karena janji pertemuan dengan kelompok tani dan nelayan. Bergegas saya bayar dan meninggalkan warung tersebut menuju halte. Saya mesti naik bis, karena memang nggak punya mobil di dapil (caleg kere ni).
Bis yang biasanya lewat setiap 10 menit, tak kunjung ada, kalaupun ada udah penuh sesak...waduh...bisa terlambat ni...belum jadi wakil rakyat aja dah jam karet...apa nanti kata konsituen saya? berbagai macam pikiran berkecamuk dalam pikiran saya.... Tapi yang jelas itu karena saya tidak terbiasa terlambat. Akhirnya Bis yang saya tunggu datang juga, jam sudah menujukkan pukul 8.45 wib, saya telpon teman yang di sana, untuk memberi tahu bahwa saya terlambat, hp nya tidak aktif. Akhirnya saya hanya pasrah dan berdoa agar semuanya lancar. Setelah setengah jam perjalanan, saya harus naik angkot untuk mencapai daerah tujuan. Alhamdulillah semuanya lancar.
Ketika saya datang ke lokasi, sudah ramai orang berkumpul...duh malu ni terlambat....Tapi saya harus hadapi dan berkata jujur bahwa terlambat bukan budaya yang baik. Akhirnya pertemuan di mulai. Banyak hal yang disampaikan oleh petani dan enlayan pada saya. Mulai dari harapan, ketakutan, keluhan, ketidakpercayaan, uji kemampuan, trackrecord dll. Saya hanya mendengar, dan tidak memberi jawaban atau janji apapun pada mereka. Kita hanya coba bangun komitmen bersama, yang Insya Allah saya akan jalankan, baik menjadi anggota DPR atau tidak jadi anggota DPR. Karena apa yang mereka sampaikan sesungguhnya adalah tanggungjawab kita bersama untuk memperbaiki nasib dan martabat hidup petani dan nelayan di negeri ini.
Pertemuan di akhiri dengan saling tukar no hp bagi yang punya hp. Tetapisatu yang paling berkesan di hati saya bahwa, pertemuan ini membuat saya menemukan keluarga baru, Indonesia yang selama ini hilang, semua muncul dalam pertemuan ini. Saya diam sejenak...mungkin ini hikmah dari kesemberawutan yang saya alami dari mulai berangkat sampai sebelum pertemuan ini. Ketika menulis blog ini, kami baru saya berdiskusi tentang manusia dan matabat kemanusiaan. Saya banyak dapat ilmu dari mereka tentang memahami hidup dan manusia...inilah kenikmatan yang luar biasa di bandingkan ketupat gulai pakis pake sala bulek...
Langganan:
Postingan (Atom)
